(Part two) 3rd DAY of the Journey to Central Java:Still on Djarum Factory Visit

Road to Semarang & Kudus, Cuap-cuap sang Author Add comments

We continued to SKM (Sigaret Kretek Machine = Machine Made Cigarette) unit. We were not allowed to bring camera, mobile phone, or any other device with function to capture picture or voices. So sorry I just can save the pictures of the sophisticated machines only in my mind. =)

Selanjutnya kami melanjutkan kunjungan ke unit SKM (sigaret kretek mesin). Memasuki tempat para pasukan rokok diproduksi dengan canggih ini, kami tidak diizinkan membawa kamera, handphone atau alat apapun yang dapat merekam gambar dan suara. Jadi saya hanya bisa menyimpan gambar-gambar perjalanan pasukan rokok di mesin canggih itu di dalam memori otak saya saja. Maaf ya…. =)

Saw the process of making cigarette using those sophisticated machine made me amazed.WOW…  All processes did by those high speed machines. Producing and packaging process, all covered by the machines. Only bigger packaging that handled manually by some workers.

Melihat dengan mata sendiri bagaimana para pasukan rokok diproduksi oleh mesin canggih itu, membuat saya terkagum-kagum. WOW…. Begitu canggihnya, sehingga semua proses produksi dilakukan dengan mulusnya oleh deretan mesin yang bekerja dengan kecepatan tinggi itu. Mulai dari membungkus tembakau dan cengkeh dengan kertas pembungkus yang telah diberi merk (yang kami kunjungi adalah tempat pembuatan Djarum Super), para pasukan rokok ini kemudian dibariskan dengan rapi dan dimasukkan ke dalam kotak pembungkus, kemudian 10 kotak dibungkus lagi dengan rapi ke dalam 1 slop. Hanya proses pembungkusan beberapa slop ke dalam 1 karton besar sajalah yang dilakukansecara manual oleh beberapa pekerja.

Djarum was also not forgetting the quality control for this cigarette machine made. Eventhough the under quality cigarette (both because of over or under weight) will automatically drop out from the machine, regularly a worker will open the packaged cigarette and check its quality. Quality control is such an important process for all company for making sure the product has best quality for their consumer.

Proses quality control pun tidak dilewatkan dalam proses pembuatan rokok dengan mesin ini. Meskipun secara otomatis rokok-rokok yang tidak memenuhi syarat (entah itu karena terlalu berat atau pun terlalu ringan) akan terlempar ke bawah mesin, setiap beberapa waktu  ada yang bertugas untuk membuka kembali bungkusan rokok yang sudah rapi dan mengecek kualitasnya secara manual. Memang benar kalau produsen yang besar tidak boleh melupakan proses quality control untuk menjaga kualitas produksi sebelum dinikmati oleh konsumen.

For the maintenance, for each shift, 1 hour allocated to check the machine. Then, in a day, there would be 3 shifts with 7 hours production time and 1 hour maintenance time. 

Sedangkan untuk perawatan mesin-mesin canggih itu, pada setiap shift, dialokasikan waktu 1 jam untuk mengecek kerja mesin. Jadi dalam 1 hari yang terdiri dari 24 jam, ada 3 shift dengan 7 jam waktu produksi dan 1 jam waktu maintenance.

After saw the sophisticated production in SKM unit, all participants of Djarum Factory visit were invited to see the R&D unit but still not allowed to bring camera or mobile phone. Just like its name; Research and Development unit; this R&D unit is responsible for any research related with Djarum production and to develop the quality. 

Setelah melihat cara produksi canggih di unit SKM, semua peserta kunjungan ini diundang ke bagian R&D unit, tetapi tetap tidak diperbolehkan membawa kamera atau handphone. Seperti namanya; Research and Development unit; bagian ini memang bertanggung jawab mengadakan riset yang berhubungan dengan produksi Djarum dan untuk pengembangan kualitas.

Have you smell Djarum Black Tea or Djarum Black Cappuccino? If you do, it smells really like the tea and cappuccino, right? The flavor for those kinds of cigarette made and developed in this unit. Djarum was also producing some other flavors such as cherry and vanilla for their products which marketed internationally. Cigarette with special flavor especially produced for the woman smokers. I have smelled some unique and nice flavors that made me relax and didn’t want to stop smelling it. =p

Pernahkah kamu mencium aroma Djarum Black Tea atau Djarum Black Cappuccino? Jika pernah, aroma itu tercium seperti layaknya teh dan cappuccino asli kan? Aroma atau flavor sejenis itu diproduksi dan dikembangkan di unit R&D ini. Djarum juga memproduksi rokok beraroma lain seperti cherry dan vanila, untuk dijual di pasar internasional. Rokok beraroma khusus ini diproduksi untuk para perokok wanita sebagai target marketnya. DI unit ini, saya sempat mencium beberapa aroma khusus yang sedang dikembangkan Djarum, flavor yang sangat wangi, membuat kita merasa santai, bahkan sampai tidak ingin berhenti menciumnya. Sayang, flavor itu tidak bisa diminta. Hehe…

In this unit, there were smoking machines which function measuring the tar level in each Djarum product. This machine imitated the human smoking process then connected to another machine which calculated the anethol (nicotine), ethanol (moisture) and eugenol (from the clave) level in each cigarette and found out the tar level.

Unit R&D juga mempunyai smoking machine yang berfungsi mengukur kadar tar dari setiap produk Djarum. Mesin ini meniru proses merokok pada manusia, dihubungkan dengan mesin yang bisa mengukur kadar anethol (nikotin), ethanol (kadar air) dan eugenol (berasal dari cengkeh) pada rokok dan menemukan kadar tar-nya.

The last stop before we proceed to Djarum sport building was IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah = Waste Water Treatment Instillation). Producing cigarette was not only simply covering the mixture of clave and tobacco with the paper, but also preparing those ingredients until it reach its best quality. The tobacco need to be saved for 2 years, while the clave needed 1 year before it’s ready to be produced .

Perhentian terakhir sebelum kami beralih ke GOR Djarum untuk menikmati makan siang kami adalah IPAL atau Instalasi Pengolahan Air Limbah Djarum. Untuk memproduksi rokok, ternyata tidak hanya membungkus cengkeh dan tembakau dengan kertas yang dibuat silinder, tetapi harus mempersiapkan bahan-bahan dasar itu agar kualitasnya bagus. Tembakau harus menunggu 2 tahun sebelum bisa dilinting, sementara cengkeh harus di’gudang’kan selama 2 tahun sebelum bisa diproduksi menjadi rokok.

The waste water of cigarette production was the water for cleaning the clave. This dark brown and smelly waste water are able to destroy the environment, then IPAL need to transform the waste water into a safe liquid for the green environment.

djarumipal_2.jpg

Limbah produksi rokok berupa air cucian cengkeh yang akan dipakai untuk dijadikan rokok. Air cucian cengkeh ini berwarna sangat coklat dan berbau tajam sehingga tidak bisa langsung saja dibuang ke saluran pembuangan air. Disini IPAL berfungsi untuk mengolah air limbah itu menjadi cairan yang tidak berbahaya untuk lingkungan.

Entering this area, your nose would be ‘welcomed by’ the smelly odor. Then, your eyes would see the dark brown water converted into more friendly form before it enter a fish pond which is functioning as a natural indicator of this water treatment process.

djarumipal_3.jpg

Memasuki area pengolahan limbah, penciuman Anda akan terganggu oleh bau yang sangat tajam menyengat hidung. Mata pun akan melihat keruhnya air yang diolah melewati beberapa proses penyaringan sebelum hasil akhirnya dimasukkan ke dalam sebuah kolam ikan yang berfungsi sebagai indikator alami keberhasilan proses pengolahan limbah ini.

The natural indicator means, the converted waste water used as a media for nurture some fishes. If the fish can grow up naturally, then the water is safe enough for the environment. 

Kolam Ikan IPAL

Yang dimaksud dengan indikator alami ini adalah, ikan yang dipelihara di IPAL ini hidup di air olahan limbah produksi rokok. Jika ikan saja bisa hidup di air limbah yang telah diolah, tentu saja air ini sudah bisa dikatakan bersahabat dengan lingkungan hidup lain di sekitar pabrik Djarum.

The question whether the fish is tasted like normal fish or even like Djarum cigarette was such a common question from Djarum visitors. Then people from IPAL always serve the visitors with the ‘IPAL roasted fish’ to make sure the normal taste of their fish.

Karena selalu ada pengunjung yang berkomentar bahwa mungkin saja ikan yang dipelihara di kolam air pengolahan limbah ini akan berasa seperti rokok Djarum, pihak IPAL pun menjadikan kegiatan menyajikan ikan bakar hasil peliharaan mereka kepada pengunjung sebagai rutinitas.

Was the ‘IPAL fish’ tasted normally? No…it was so special, because it was super duper delicious and successfully made the one who try it want it more, more and more…

Dan apa benar ikan hasil peliharaan IPAL Djarum ini berasa spesial? Ternyata bener loh…. Karena ternyata ikan bakar itu berasa…… sangat mak nyusssss….. alias uenak tenan…. Bener-bener nikmat dan bikin yang menikmati mau lagi, lagi dan lagi…. 

Finished with the fishes, the participants were invited to see the compost made by the waste ingredient. But if you asked me how the compost is look like, I just can said ‘it was white a little bit brown, it was soft and smells good’. Hehe, actually that was the description of the fishes we ate. I didn’t see the compost but chose to stay in front of the fishes and enjoy the delicious taste. Alvian, one of my junior in President University took my picture while eating that fish. =p

Uenak tenan….(The greedy, narcissus photographer in action)

Setelah menikmati sang ikan-ikan korban, peserta pun melihat kompos yang berasal dari hasil pengolahan limbah itu. Tapi jika ditanyakan kepada saya bagaimana rupa si kompos, saya hanya bisa menjawab: ‘putih-putih agak sedikit coklat kemerahan, lembut, ada durinya dan berbau harum….’ Huehe…itu mah deskripsi si ikan korban-korban keganasan para peserta. Saking enaknya tuh ikan, saya dan beberapa peserta lain sampai bela-belain tidak ikut melihat kompos hanya demi menguliti si ikan sampai tak bersisa. Bahkan sampai para peserta lain yang melihat kompos kembali, kami masih saja bertahan di posisi yang sama. Alvian, salah seorang junior di President University pun sempat mengabadikan kekejaman saya menguliti si ikan itu =p (kalau ada yang ilfil karena membaca tulisan ini dan melihat foto saya, gapapa…. Saya sadar diri kok….)

Then, we were proceeding to Djarum sport building.

Lalu kami pun melanjutkan perjalanan ke GOR Djarum.

Don’t worry, coz I’ll be back with the story…

3 Responses to “(Part two) 3rd DAY of the Journey to Central Java:Still on Djarum Factory Visit”

  1. Edwin Kurniawan Says:

    well, you are so greedy.

    anyway, oke juga isi blog lu dan foto2 nya juga

  2. Irwan Setyawan Says:

    Ini sih lagi kelaparan ya…?

  3. Sannywannatell Says:

    Iya pak Irwan…laper banget waktu itu…malah rencana ga turun… tapi ternyata ga rugi juga turun, dapat ikan enak…hehe….

Leave a Reply

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Login